MeineThink

We learnt, We Change then We don't die


Leave a comment

A life in Diolo village

The main road in Diolo village

Diolo village is one of the biggest Sagoo plantations and productions area in South East Sulawesi province. The Sagoo from this village been distributing and exporting to the local and regional market. Sagoo becoming the mainly food for each household in this village which been growing naturally many years ago, since their great grand-parents life. These days, Sagoo tree had highly decreasing because the processing activities either for consumption or market demand without any transplanting activities by villagers or people who involve in the processing activity. Some land area of the sagoo plantation also been change into palm plantations, housing area or paddy field or main road of mining company transportation.

The main income of each household is come from agriculture activities both sago processing and crops plantations. The crops are coconut, banana, cashew nut and cocoa. In 2008, the government assisted this village through opening land of fish bond activities for the villagers. Men as a household in the family mostly work in their farm from 07.00 am in the morning until 17.00 in the afternoon. Some youngest men who around 20 – 25 years work in sago processing while older men who around 25 to 50 work in others field. Sagoo processing is kind of hard work according to them, even using machine to process it this days. Women mostly work as a housewife and only few of them who sometime help their husband in farm or running small enterprises such as making cake or open small shop. Women in this village marriage in young age for instance a lady who around my age has 3 children with 13 years for the oldest child. Shockingly, both men and women who educated still has less income and more expenses of living cost.

Roofs made from Sagoo leaf

I was visiting this village with my friend who run his research about it week ago. By knowing those fact, I am bit concern weather my children can eat sagoo like us in next twenty years. As an Agriculture background I am willing to do something good and effectively for sustainability livelihood to this villagers.  Especially in communities development as I have an experience working in this fields since eight years ago.

I was born as Tolakinesse which an original Ethnic in Southeast Sulawesi, province.  For us Sagoo is our main meals instead rice sometimes. It’s so common for us to have it in our gathering family lunch or dinner party.  In South East Sulawesi, the biggest productions of Sagoo is in Konawe and North Konawe district which is one of my Father home country.  The explorations land by Palm oil plantations and mining companies is the biggest challenge that we faced in both districts.  Several acre of lands that used to be planted with Sagoo tree’s become less in number and changed wih Palm oil plantations.  I’m wondering whether my children generation still eat it in the next future or not, If the government do not protect the land and the people keep being greedy for money.  I wish something better for sure !.

Sagoo plantation near by the river


Leave a comment

Hujan yang ramah !

Hujan di bulan Januari

Hari ini hujan nampak turun dengan ramahnya di luar sana, tak seperti biasanya yang selalu deras bak air bah tumpah.  Membuat ku betah tinggal dan berkativitas di rumah saja.  Sambil membuka-buka kembali beberapa file pekerjaan yang sedang mengantri dalam “List to Do” di buku agendaku, aku mencoba meraba-raba kembali gairah untuk menuliskan sesuatu dalam blog ku in.  Sesuatu tentang apa pun itu.  Minat atau gairah menulis itu kadang kencang kadang kendor dan kadang hilang sama sekali pada satu waktu.  Suasana di sekitar kita juga kadang mempengaruhi konsentrasi untuk menuliskan sesuatu dengan baik dan menarik tentunya.  Hari ini hujan membuat ku betah untuk fokus menuliskan beberapa laporan pekerjaan, rencana kegiatan dan tentunya menuliskan hal ini pada kalian.  Postingan terkahir ku sepertinya di Januari tahun lalu, cukup lama juga blog ku ini berhibernasi.

Keterampilan menulis bukan sesuatu yang susah dan tak juga mudah, yang penting kita menulis saja apa yang mau di tulis dan dilakukan.  Kira-kira begitu nasehat yang pernah disampaikan seorang penulis dan editor buku kepadaku.  Betul juga pikir ku, ibarat sebuah mata pisau tumpul yang jika di tempa setiap hari pasti akan tajam.  Keterampilan menulis pun juga begitu, jika kita mencoba menuliskan apa saja yang ada di pikiran atau perasaan atau pengalaman atau perjalanan kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa menyajikan tulisan yang baik dan menarik juga kan?.  Ini mengingatkan diri sendiri dan jika berkenan ke pembaca sekalian.  Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana memupuk “gairah” menulis itu agar tidak kendor? Nah, ini mungkin menjadi persoalan tersendiri buat kita.  Saya sendiri pun masih belum bisa mengatasi atau memberi solusi untuk hal ini, karena sudah terbukti postingan saya terakhir disini adalah setahun yang lalu… nah loo.. Jika ada pembaca sekalian yang ingin berbagi tentang hal ini lebih baik.  Kalau mau berbagi tentang bagaimana Hujan memberi anda rasa nyaman atau gelisah atau kesal, juga di silahkan.  Untuk saat ini, Hujan membuat ku merasa nyaman berhadapan dengan layar komputer di meja kerjaku ini dan menuangkan kata demi kata dalam laman ini.

Telah banyak media-media yang di kembangkan untuk membantu seseorang meningkatkan keterampilan menulis dan mempromosikannya.  Salah satunya ya blog ini,  dan tentu beberapa jaringan sosial media lainnya.  Beberapa orang pun tak jarang memiliku dua alamat blog untuk menuliskan atau mempromosikan apa yang ada dalam pikiran atau kehidupan mereka.  Tapi tak jarang juga ada yang menggunakan blog untuk mereview produk-produk tertentu, misalnya produk kecantikan, kesehatan dan lainnya.  Saya pernah baca blog seorang teman yang mereview produk kecantikan dengan begitu rapi namun belum menarik minat ku untuk mencoba produk itu.  Hmm, maklum kadang hal ini juga tergantung minat dan selera seh, bagiku produk kecantikan tidak ada yang membuat seseorang secantik bidadari dari dulu. Kalau ada, sudah dari dulu aku menjadi pelanggan tetap produk itu.  Menurut ku, pengertian cantik itu tergantung pandangan kita sendiri dan orang terdekat kita dan tidak perlu di terjemahkan oleh produk kecantikan. Sama dengan produk makanan, yang menurut orang lain enak tapi belum tentu yang lainnya juga bilang enak.  Duh, melenceng neh dari topik diatas.  Namun intinya, saat ini media dan perangkat nya telah membantu kita untuk menumbukan minat menulis atau pun membaca tulisan orang lain yang tentunya akan membuat kita memacu diri untuk bisa/dapat berbuat hal yang sama baik atau bahkan lebih baik.  Menulis di mana pun, dengan kondisi apapun dan menggunakan media apa pun bukan masalah, yang penting dilakukan dan jaga agar konsisten untuk sering melakukannya.  Sama dengan kita menjaga nilai-nilai hidup yang kita yakini untuk terus lebih baik dari hari ke hari, ya kan?.  Ini bagian dari mengingatkan diri sendiri.


Leave a comment

Book’s #2 “Negeri 5 Menara”

Siapa yang tak pernah dengar slogan “Man Jadda Wa Jadda” ??? sepertinya sudah menjadi trending topic slogan ini, kalah dah dengan slogan “Cetar Membahana” itu… hehehe

Yup, slogan itu terpopulerkan melalui sebuah kisah anak remaja dari Padang yang merantau ke sebuah pesantren ternama di Jawa Timur, sebut saja pesantren “Gontor” dalam buku berjudul “negeri 5 Menara” ini.  Kisah dalam buku ini menjadi best seller di setiap toko buku yang ada di negeri ini. Selain itu, kisah ini telah pula di film kan dan di tayangkan di bioskop-bioskop paling oke di kota-kota anda pastinya.

Aku lebih dulu membaca kisah ini melalui buku yang ku pinjam dari sahabat ku.  Kami bertukaran buku waktu itu, dan dia belum selesai pula menghabiskan halaman per halaman di buku ini.  Mungkin Sahabat ku memiliki waktu yang terbatas untuk membaca buku sehingga ketika ku tawarkan bertukar buku, tanpa ragu dia menjawab “ok”.  Aku pun menghabis kan setiap lembaran per halamannya di akhir pekan.  Dan selalu saja aku penasaran ketika telah menyelesaikan kisahnya per bab di setiap section nya.

Hal yang menarik dari kisah ini …. buaaannyyyaaakk banget.  Aku kadang tertawa, sedih, dan semangat sendiri ketika membaca kisahnya.  Satu hal yang selalu ku ingat adalah ketika tokoh utama dan kawan-kawannya berusaha mempengaruhi kepala pengawas (keamanan) untuk menyaksikan pertandingan kejuaraan dunia Badminton secara ramai-ramai di sebuah aula pesantren  *hahaha*…. aku teringat sendiri waktu masih kecil, aku paling gemar menyaksikan pertandingan Badminton melalui layar TV bersama bapak dan anggota keluarga yang lain.  Kalau di kisah buku ini mereka mengidolakan “Alan Budikusuma” lain lagi dengan ku waktu itu, aku mengidolakan “Susi Susanti” dan “Deyana Lomban”.

Nah, penasaran kan…..???

Baca deh bukunya… membangkit kan semangat dan jiwan pantang putus asa…. “Man jadda wa jadda” (siapa yang bersunguh-sungguh pasti berhasil) kira-kira seperti itu lah maknanya…


2 Comments

Love

love spark

A poem by Maria Mustika.

I love you not for your skin, or how your hair done

I love you not for your face, or how you dress yourself

I love you not for your body, or how you address yourself

It’s the humble and warmth smile, that keep trap my mind to you

It’s the little thing you do, that keep tracing in my life

It’s the silent and understanding, that keep remind me of you

It’s the beauty of your mistake, that keep bounce back to me

so you see

I don’t know how to explain

these words that trap in my mouth

I don’t know what to do

to express to you how I feel

but thank you

to let yourself

be a part of me

thank you

to let me

stand side by side

with you

~~~~~~

I was read and think this poem describe one of my stories, that’s why I posted in my blog.

Maria is my friend who stay in Surabaya with her partner.  We met on 2007 at the Young feminist training in Bogor.  She is one of my inspire friend who caring and loveable person.  Thanks Maria for share this poem to us.

#Happy reading


Leave a comment

Elegy #3

Blue sky wiped the cloudy days….  Sunny day has come , as the same time when you come … come’s with your new passion of life… come with your new dream of life…. thought you fight with the heavy rain that had come into your life… thought you fight with the darkness that pull you in its circle …. You wiped it all and kick it back to under wold…

A girl watched you through  the moon,  spread her best wishes to you…. A wishes that you will find a blessed life…

Past is Past… life must go on and change as you said… A girl over there was happy under the moon.. but she could not yet find you among the sunny days…. Her hearts could not yet seen you in the moon like before…

Is a girl lost you in the Sunny days? Is a girl lost you in the moon? and Are you come through the moon to save her ? Are you come through the blue sky to find her ?

Don’t ….. !!!

That girl happy to let you dancing in your new life and dream with or without her !

#Makassar, June 6th 2012 (Wednesday)


Leave a comment

Perempuan dan Perubahan Iklim

Ketika membaca judul tulisan ini, sejenak tersirat di benak kita (pembaca, red) akan sebuah tulisan yang sangat ilmiah…. *aku menebaknya demikian*,  namun aku berusaha untuk tidak membuat tulisan ini menjadi menjemukkan.   Minat ku memulai menuliskan ini diawali dari sebuah presentasi tugas kuliahku di hadapan teman-teman dan dosen (Mata Kuliah “Isu Kontemporer Pembanguan Pertanian)  hari ini (Minggu, 27 Mei 2012).   Koq bisa ya?  begini ceritanya … Mata kuliah ini mengharuskan kami membuat paper ilmiah dan presentasi yang relevan dengan sub materi kuliah.   Aku kemudian mengangkat tema papers kali ini “perubahan iklim dan pengaruh nya terhadap sektor pertanian”.  Dalam presentasi ku sajikan dampak yang di hadapi oleh perempuan terhadap perubahan iklim.   Pada sesi ini tak banyak peserta atau teman-teman kuliah yang menyimak dan memperhatikan, malah sempat tersimpul senyum-senyum meremehkan dari mereka.  Mayoritas di kelas ku mahasiswa laki-laki lebih banyak di banding perempuan.   Ketika sampai pada sesi pemutaran video yang menggambarkan apa itu Perubahan Iklim? penyebab nya? Dampaknya bagi mata pencaharian, air, kesehatan dan perempuan? serta bagaimana mengatasi dampak tersebut, barulah teman-teman ku itu fokus dan memperhatikan apa yang ku presentasikan.   Setelah selesai pemutaran video itu aku pertajam lagi dampak perubahan iklim bagi perempuan, terutama perempuan yang tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian.  Setelah sesi presentasi dan diskusi selesai, dosen ku langsung memberi tepuk tangan dan meminta bahan presentasi ku ini di berikan padanya dalam bentuk CD.  Sontak saja hati ku girang dan senang…. Akhirnya :-)

Rasa-rasanya perlu juga ku bagikan dalam tulisan ini ringkasan isi dari tugas kuliah ku tersebut.

Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar bagi kemanusian dan lingkungan kita saat ini.  Istilah “perubahan iklim” di gunakan untuk menggambarkan pemanasan iklim bumi yang disebabkan oleh sejumlah besar gas rumah kaca, termasuk karbon dan metana, dalam susunan atmosfer bumi.  Kegiatan industri yang dilakukan oleh manusia memancarkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer.  Kegiatan -kegiatan tersebut seperti pertambangan, pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, pemrosesan mineral, industri pertanian, asap yang di hasilkan sarana transportasi, penebangan dan pembakaran hutan.  Dapat pula di katakan bahwa pemanasan global (global warming) merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim.

Human activities that caused global warming

Negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah negara-negara yang paling rentan akan dampak perubahan iklim.  Adanya bencana alam merupakan dampak yang paling jelas kita hadapi saat ini akibat dari perubahan iklim.  Alih fungsi lahan-lahan pertanian menjadi lokasi pertambangan menyebabkan bergesernya mata pencaharian manusia dipedesaan yang semula melestarikan bumi berubah menjadi mengeksploitasi hasil bumi.   Berkurang nya spesies hewan dan tumbuhan di bumi akibat perubahan iklim juga dapat dirasakan saat ini.  Misalnya, mewabahnya serangga “Tomcat” di pulau Jawa akibat putusnya rantai makanan yang mengakibatkan meningkatnya populasi serangga “Tomcat” .  Selain itu, kesehatan manusia terganggu dan sumber-sumber air yang perlahan-lahan berkurang.   Hal ini tentunya berdampak bagi kehidupan manusia di bumi terutama kaum perempuan.

Perempuan yang tinggal di pedesaan, sekitar hutan dan pesisir pantai sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perempuan yang bekerja pada lahan-lahan pertanian sebagai buruh tani, akan kehilangan lapangan pekerjaan akibat alih fungsi lahan dan  mengalami kekeringan.  Perempuan yang hidup di sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada hasil-hasil hutan sebagai tempat untuk mencari sumber makan, obat-obatan, kayu bakar dan air akan mengalami kesulitan mencari sumber-sumber kehidupan ini di masa yang akan datang.  Perempuan yang hidup di pesisir pantai juga akan sangat sulit bagi mereka untuk melakukan budidaya rumput laut sebagai tambahan pendapatan rumah tangga.   Hal-hal ini tentunya akan menimbulkan beban kerja bagi perempuan sebagai pelaku ekonomi rumah tangga.  Perlu di ketahui bahwa, kaum perempuan yang bekerja pada sektor-sektor pertanian, dan menggantungkan hidupnya pada hutan memperoleh pendapatan ekonomi yang terendah dibanding kelompok perempuan yang bekerja pada sektor industri atau ekonomi lainnya.   Kaum laki-laki yang tinggal di pedesaan dapat saja meninggalkan pekerjaannya dan mencari sumber mata pencaharian lainnya di kota misalnya menjadi buruh bangunan tanpa beban, namun hal inilah yang akan menimbulkan beben kerja tambahan bagi perempuan yang tinggalkan di desa-desa tersebut.

Women Household who live in coastal area at Kendari city of Southeast Sulawesi province, Indonesia

Tentunya berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan risiko dampak perubahan iklim ini.  Berdasarkan hasil-hasil penelitian lembaga lingkungan dinyatakan bahwa upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim ini dapat dilakukan melalui adaptasi dan mitigasi.  Ketika iklim berubah, hutan dan manusia terpaksa harus terbiasa dengan perubahan curah hujan dan suhu udara yang terjadi secara perlahan.  Mereka juga akan lebih sering menghadapi berbagai kejadian yang berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem seperti musim kering panjang dan banjir.  Strategi adaptasi dapat membantu manusia dalam mengelola dampak perubahan iklim dan melindungi sumber penghidupan atau mata pencaharian mereka.  Salah satu contoh tindakan adaptasi yang bisa dilakukan yakni dengan menanam pohon atau tanaman yang lebih toleran terhadap suhu yang lebih tinggi dan cuaca yang ekstrem.

Jika adaptasi berkaitan dengan respons terhadap dampak perubahan iklim, maka mitigasi berhubungan dengan cara kita mengatasi sumber atau penyebabnya. Kita memerlukan keduanya karena saling melengkapi. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pengaruh emisi pada masa lampau masih akan terasa meskipun mitigasi terhadap emisi GRK sudah dilakukan. Karena itu adaptasi masih akan diperlukan.  Upaya mitigasi harus mengutamakan pengurangan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil di negara-negara industri. Meskipun pengaruhnya relatif kecil, kegiatan  penanaman pohon untuk menyerap karbon juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Namun demikian, untuk mengurangi 20 persen dari emisi yang berkaitan dengan hutan, kita memerlukan pendekatan konservasi yang baru dan lebih efektif.

Sebagai individu tentunya kita dapat berbuat untuk mengatasi dampak perubahan iklim ini dengan meminimalkan pengunaan transportasi dalam aktivitas sehari-hari, mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recyle).  Terlibat aktif dalam gerakan – gerakan perubahan lingkungan yang lestari juga sangat memberikan kontribusi positif. 

“It’s not too late to change our habit for a better place in earth“.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 217 other followers