Meine Think

Only a dead fish who go with the flow


Leave a comment

Manisnya Kopi

Menuliskan serpihan kenangan pada masa bersama yang diawali dengan mengingat kembali potongan serpihan tersebut.  Jejak kaki tak Nampak tanpa pijakan yang kuat.  Sudut bangunan itu menjadi saksi bayang-bayang indah yang harus terlupa.  Kita tak akan lagi bercerita tentang kita.  Kita tak akan lagi menyusun rencana bersama tentang kita.  Kita bahkan tak akan lagi saling mengingat tentang kita.

Aku masih terdiam di sudut bangunan itu, mencoba menebak-nebak kerancuan gerakmu melalui waktu.  Tiap serpihan kenangan melalui waktu seolah memberikan jawaban untuk setiap kerancuan pertanyaan ku tentang kita.  Jawaban yang memaksa ku meninggalkan sudut kenangan itu.  Memaksa nalar ku bergerak maju meninggalkan mu dan kenangan kita.

Hanya pahit nya kopi yang mampu menorehkan rasa manis ketika mengingat kita dan cerita kita. Hanya pahitnya kopi yang memberi rasa gurih pada tiap langkah kaki mengukir masa yang manis ke depan.

Starbucks BIP Bandung,

5th of May 2016

 


Leave a comment

A life in Diolo village

The main road in Diolo village

Diolo village is one of the biggest Sagoo plantations and productions area in South East Sulawesi province. The Sagoo from this village been distributing and exporting to the local and regional market. Sagoo becoming the mainly food for each household in this village which been growing naturally many years ago, since their great grand-parents life. These days, Sagoo tree had highly decreasing because the processing activities either for consumption or market demand without any transplanting activities by villagers or people who involve in the processing activity. Some land area of the sagoo plantation also been change into palm plantations, housing area or paddy field or main road of mining company transportation.

The main income of each household is come from agriculture activities both sago processing and crops plantations. The crops are coconut, banana, cashew nut and cocoa. In 2008, the government assisted this village through opening land of fish bond activities for the villagers. Men as a household in the family mostly work in their farm from 07.00 am in the morning until 17.00 in the afternoon. Some youngest men who around 20 – 25 years work in sago processing while older men who around 25 to 50 work in others field. Sagoo processing is kind of hard work according to them, even using machine to process it this days. Women mostly work as a housewife and only few of them who sometime help their husband in farm or running small enterprises such as making cake or open small shop. Women in this village marriage in young age for instance a lady who around my age has 3 children with 13 years for the oldest child. Shockingly, both men and women who educated still has less income and more expenses of living cost.

Roofs made from Sagoo leaf

I was visiting this village with my friend who run his research about it week ago. By knowing those fact, I am bit concern weather my children can eat sagoo like us in next twenty years. As an Agriculture background I am willing to do something good and effectively for sustainability livelihood to this villagers.  Especially in communities development as I have an experience working in this fields since eight years ago.

I was born as Tolakinesse which an original Ethnic in Southeast Sulawesi, province.  For us Sagoo is our main meals instead rice sometimes. It’s so common for us to have it in our gathering family lunch or dinner party.  In South East Sulawesi, the biggest productions of Sagoo is in Konawe and North Konawe district which is one of my Father home country.  The explorations land by Palm oil plantations and mining companies is the biggest challenge that we faced in both districts.  Several acre of lands that used to be planted with Sagoo tree’s become less in number and changed wih Palm oil plantations.  I’m wondering whether my children generation still eat it in the next future or not, If the government do not protect the land and the people keep being greedy for money.  I wish something better for sure !.

Sagoo plantation near by the river


Leave a comment

Hujan yang ramah !

Hujan di bulan Januari

Hari ini hujan nampak turun dengan ramahnya di luar sana, tak seperti biasanya yang selalu deras bak air bah tumpah.  Membuat ku betah tinggal dan berkativitas di rumah saja.  Sambil membuka-buka kembali beberapa file pekerjaan yang sedang mengantri dalam “List to Do” di buku agendaku, aku mencoba meraba-raba kembali gairah untuk menuliskan sesuatu dalam blog ku in.  Sesuatu tentang apa pun itu.  Minat atau gairah menulis itu kadang kencang kadang kendor dan kadang hilang sama sekali pada satu waktu.  Suasana di sekitar kita juga kadang mempengaruhi konsentrasi untuk menuliskan sesuatu dengan baik dan menarik tentunya.  Hari ini hujan membuat ku betah untuk fokus menuliskan beberapa laporan pekerjaan, rencana kegiatan dan tentunya menuliskan hal ini pada kalian.  Postingan terkahir ku sepertinya di Januari tahun lalu, cukup lama juga blog ku ini berhibernasi.

Keterampilan menulis bukan sesuatu yang susah dan tak juga mudah, yang penting kita menulis saja apa yang mau di tulis dan dilakukan.  Kira-kira begitu nasehat yang pernah disampaikan seorang penulis dan editor buku kepadaku.  Betul juga pikir ku, ibarat sebuah mata pisau tumpul yang jika di tempa setiap hari pasti akan tajam.  Keterampilan menulis pun juga begitu, jika kita mencoba menuliskan apa saja yang ada di pikiran atau perasaan atau pengalaman atau perjalanan kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa menyajikan tulisan yang baik dan menarik juga kan?.  Ini mengingatkan diri sendiri dan jika berkenan ke pembaca sekalian.  Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana memupuk “gairah” menulis itu agar tidak kendor? Nah, ini mungkin menjadi persoalan tersendiri buat kita.  Saya sendiri pun masih belum bisa mengatasi atau memberi solusi untuk hal ini, karena sudah terbukti postingan saya terakhir disini adalah setahun yang lalu… nah loo.. Jika ada pembaca sekalian yang ingin berbagi tentang hal ini lebih baik.  Kalau mau berbagi tentang bagaimana Hujan memberi anda rasa nyaman atau gelisah atau kesal, juga di silahkan.  Untuk saat ini, Hujan membuat ku merasa nyaman berhadapan dengan layar komputer di meja kerjaku ini dan menuangkan kata demi kata dalam laman ini.

Telah banyak media-media yang di kembangkan untuk membantu seseorang meningkatkan keterampilan menulis dan mempromosikannya.  Salah satunya ya blog ini,  dan tentu beberapa jaringan sosial media lainnya.  Beberapa orang pun tak jarang memiliku dua alamat blog untuk menuliskan atau mempromosikan apa yang ada dalam pikiran atau kehidupan mereka.  Tapi tak jarang juga ada yang menggunakan blog untuk mereview produk-produk tertentu, misalnya produk kecantikan, kesehatan dan lainnya.  Saya pernah baca blog seorang teman yang mereview produk kecantikan dengan begitu rapi namun belum menarik minat ku untuk mencoba produk itu.  Hmm, maklum kadang hal ini juga tergantung minat dan selera seh, bagiku produk kecantikan tidak ada yang membuat seseorang secantik bidadari dari dulu. Kalau ada, sudah dari dulu aku menjadi pelanggan tetap produk itu.  Menurut ku, pengertian cantik itu tergantung pandangan kita sendiri dan orang terdekat kita dan tidak perlu di terjemahkan oleh produk kecantikan. Sama dengan produk makanan, yang menurut orang lain enak tapi belum tentu yang lainnya juga bilang enak.  Duh, melenceng neh dari topik diatas.  Namun intinya, saat ini media dan perangkat nya telah membantu kita untuk menumbukan minat menulis atau pun membaca tulisan orang lain yang tentunya akan membuat kita memacu diri untuk bisa/dapat berbuat hal yang sama baik atau bahkan lebih baik.  Menulis di mana pun, dengan kondisi apapun dan menggunakan media apa pun bukan masalah, yang penting dilakukan dan jaga agar konsisten untuk sering melakukannya.  Sama dengan kita menjaga nilai-nilai hidup yang kita yakini untuk terus lebih baik dari hari ke hari, ya kan?.  Ini bagian dari mengingatkan diri sendiri.


Leave a comment

Book’s #2 “Negeri 5 Menara”

Siapa yang tak pernah dengar slogan “Man Jadda Wa Jadda” ??? sepertinya sudah menjadi trending topic slogan ini, kalah dah dengan slogan “Cetar Membahana” itu… hehehe

Yup, slogan itu terpopulerkan melalui sebuah kisah anak remaja dari Padang yang merantau ke sebuah pesantren ternama di Jawa Timur, sebut saja pesantren “Gontor” dalam buku berjudul “negeri 5 Menara” ini.  Kisah dalam buku ini menjadi best seller di setiap toko buku yang ada di negeri ini. Selain itu, kisah ini telah pula di film kan dan di tayangkan di bioskop-bioskop paling oke di kota-kota anda pastinya.

Aku lebih dulu membaca kisah ini melalui buku yang ku pinjam dari sahabat ku.  Kami bertukaran buku waktu itu, dan dia belum selesai pula menghabiskan halaman per halaman di buku ini.  Mungkin Sahabat ku memiliki waktu yang terbatas untuk membaca buku sehingga ketika ku tawarkan bertukar buku, tanpa ragu dia menjawab “ok”.  Aku pun menghabis kan setiap lembaran per halamannya di akhir pekan.  Dan selalu saja aku penasaran ketika telah menyelesaikan kisahnya per bab di setiap section nya.

Hal yang menarik dari kisah ini …. buaaannyyyaaakk banget.  Aku kadang tertawa, sedih, dan semangat sendiri ketika membaca kisahnya.  Satu hal yang selalu ku ingat adalah ketika tokoh utama dan kawan-kawannya berusaha mempengaruhi kepala pengawas (keamanan) untuk menyaksikan pertandingan kejuaraan dunia Badminton secara ramai-ramai di sebuah aula pesantren  *hahaha*…. aku teringat sendiri waktu masih kecil, aku paling gemar menyaksikan pertandingan Badminton melalui layar TV bersama bapak dan anggota keluarga yang lain.  Kalau di kisah buku ini mereka mengidolakan “Alan Budikusuma” lain lagi dengan ku waktu itu, aku mengidolakan “Susi Susanti” dan “Deyana Lomban”.

Nah, penasaran kan…..???

Baca deh bukunya… membangkit kan semangat dan jiwan pantang putus asa…. “Man jadda wa jadda” (siapa yang bersunguh-sungguh pasti berhasil) kira-kira seperti itu lah maknanya…


2 Comments

Love

love spark

A poem by Maria Mustika.

I love you not for your skin, or how your hair done

I love you not for your face, or how you dress yourself

I love you not for your body, or how you address yourself

It’s the humble and warmth smile, that keep trap my mind to you

It’s the little thing you do, that keep tracing in my life

It’s the silent and understanding, that keep remind me of you

It’s the beauty of your mistake, that keep bounce back to me

so you see

I don’t know how to explain

these words that trap in my mouth

I don’t know what to do

to express to you how I feel

but thank you

to let yourself

be a part of me

thank you

to let me

stand side by side

with you

~~~~~~

I was read and think this poem describe one of my stories, that’s why I posted in my blog.

Maria is my friend who stay in Surabaya with her partner.  We met on 2007 at the Young feminist training in Bogor.  She is one of my inspire friend who caring and loveable person.  Thanks Maria for share this poem to us.

#Happy reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 238 other followers