Meine Think

Only a dead fish who go with the flow

Bukan Jejak Petualang

2 Comments

Introduction: I was wrote this article when I work for YAPPIKA in running a Civil Society Index research on March to April 2009 at North Buton district of Southeast Sulawesi.  I just posting it now, because I already have my own blog and willing to share my experience  to all of you.  Happy reading🙂

alat transportasi ke kab. Butur

Beberapa bulan yang lalu, aku bepergian ke wilayah Kab. Buton Utara yang lebih dikenal dengan sebutan Ereke, dalam rangka penelitian indeks penilaian masayarakat sipil.  Kabupaten Buton utara merupakan kabupaten baru di wilayah propinsi Sulawesi Tenggara  yang dimekarkan pada tanggal 2 Januari 2007 dari Kabupaten Muna (Kab. Induk).  Secara administratif  wilayah ini terbagi atas 6 kecamatan defenitif yang terdiri dari 49 desa, 8 kelurahan dan 2 unit pemukiman transmigrasi (UPT).  Penduduknya berjumlah 48.184 jiwa, yang terdiri dari 24.000 laki-laki dan 24.184 perempuan.  Sebagai kabupaten yang baru tentunya pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum lainnya masih sangat terbatas. Sebab muasalnya aku harus ke kabupaten ini adalah kerena aku terlibat dalam sebuah penelitian indeks masyarakat sipil dimana wilayah Kab. ini menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang peneliti.

Bertugas dan berkunjung ke daerah ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Tidak pernah terlintas dalam benakku akan berdomisili selama 1 bulan 2 minggu di daerah yang terkenal dengan hasil hutan dan lautnya ini.  Ditambah lagi tidak adanya sanak keluarga, teman dan kenalan lainnya yang berdomisili di wilayah ini membuat blank otak ku akan wilayah ini. Bermodalkan nekad dan tanggung jawab aku berangkat ke Ereke melalui Kendari.

Sebenarnya ada beberapa jalur yang dapat ditempuh jika akan menuju ke Ereke, bisa melalui Kota Bau-Bau, Raha dan Kota Kendari. Dari Kendari kapal yang kutumpangi berangkat sekitar Pukul 10.00 am dan akan sampai di Wd. Buri pukul 16.00 wita.  Jika melalui kendari kita memang tidak akan langsung sampai di ibukota Kabupaten (Ereke/ Lipu) namun akan tiba di Wd.Buri (salah satu desa terujung di sebelah utara), itupun turun dari kapalnya tidak langsung ke pelabuhan namun melalui jonson / kating-ting (kapal kecil yang muatannya sekitar 15 org) ditengah lautan yang akan membawa kita ke pelabuhan.  Setelah itu, naik ojek atau angkot menuju ke Ereke dengan jarak tempuh sekitar 1 jam karena kondisi jalanan yang berbatu karang dan belum semuanya terjamah aspal.

Beruntungnya aku, selama dalam perjalanan perdana ini aku mempunyai kenalan yang kebetulan adalah penduduk asli di sana.  Maka melalui kawan baruku inilah rute perjalanan perdanaku ini menjadi lebih mudah, dan bahkan dia pula yang menunjukkan hotel (lebih layak disebut penginapan kalo menurutku) dan mengantarku ke tempat target penelitian serta ke tempat-tempat wisata yang ada di Ereke, termasuk Kampung Bajo.

kampung bajo

Kampung Bajo merupakan suatu perkampungan yang di huni oleh masyarakat suku Bajo yang lokasinya berada di tengah atau pinggir lautan. Kampung Bajo merupakan wilayah favoritku ketika penelitian ini berlangsung.  Kampung ini memiliki panorama yang indah dan makanan yang enak bagiku. Setiap kali berada di kampong ini rasa penat, capek dan stress pun langsung hilang. Walaupun berada di tengah lautan, aku tidak takut berlari-larian diatas papan jalan Kampong ini, sebab papan jalannya dibuat sangat kuat sehingga kendaraan bermotor pun bisa melaluinya.  Bercengkrama dengan masyarakat suku Bajo dan menikmati sunset serta cumi bakar di kampong ini akan selalu tersimpan dalam memori otakku.

Selama sebulan itu aku juga bolak balik ke Kendari atau Bau-Bau untuk mengirimkan laporan pekerjaanku dengan frekuensi 2 kali sebulan, mengingat akses jaringan dan sarana pengiriman yang sangat terbatas di Ereke.  Rute Bau-Bau ke Ereke dapat ditempuh dengan 3 jam perjalanan darat menggunakan mobil khusus dan 1 jam perjalanan menyeberangi lautan menggunakan kapal Jonson.  Perjalanan darat akan melintasi hutan lindung Lambusango di Kab. Buton yang mana kondisi jalanannya sangat parah terlebih jika musim hujan tiba. Kendaraan pun bisa saja tidak melintas akibat lumpur dan kondisi jalan yang becek. Alhasil penumpang bisa saja akan menginap di perjalanan.

Lain halnya dengan Rute Raha – Ereke (Rincian rutenya : Raha – Laino – Maligano – Ronta – Lipu/Ereke). Satu kali aku pernah terjebak untuk harus melalui rute ini. Hal ini di sebabkan karena jadwal keberangkatan kapal Kendari – Ereke yang tidak ada, jadwal penyajian materi penelitianku pada Lokakarya Indeks Penilaian Kondisi Masyarakat Sipil yang tak bisa di undurkan dan rute Bau-Bau membutuhkan waktu sehari karena mesti menginap. Mau tak mau aku harus melalui rute ini dan tak ada bayangan sama sekali, mengingat selama melakukan tugas di Ereke rute perjalananku hanya melalui Kendari dan Bau-Bau.  Sebelum berangkat menuju Ereke aku sempat mendapatkan penjelasan singkat dari kawanku di Bau-Bau akan rute ini. Maka jadilah aku berangkat sendirian tanggal 1 Juli itu (menurut nelayan awal bulan Juli adalah musim ombak) pukul 07.00 wita dari Kendari menuju Raha dengan menggunakan kapal cepat.  Pukul 11.00 wita aku tiba pelabuhan Raha dan langsung menuju pelabuhan Laino untuk menyeberang ke Maligano menggunakan kapal kecil (maks. 20 orang) dan perjalanan di tempuh sekitar 1 jam dari yang biasanya hanya 35 menit. Hal ini disebabkan kapal kami harus menghindari dan terkadang beradu dengan ombak.  Untuk sampai ke Ronta maka harus menggunakan ojek dari Maligano dengan jarak tempuh sekitar 60 kilo meter, sebab tak ada kendaraan lain yang bisa digunakan untuk jalur ini karena jalur ini melintasi jalanan setapak dengan bebatuan gunung nya dan juga melintasi hutan lindung.  Terkadang dalam perjalanan di jalur ini penumpang ojek yang menuju Ronta sering di pertukarkan dengan penumpang ojek dari arah yang berlawanan yakni menuju Maligano dengan alasan jarak kembali yang akan di tempuh tukang ojek sangat jauh dan biasanya sudah tak ada penumpang yang akan menuju jalur yang sama sementara biaya perjalanannya sama saja.  Maka jadilah aku di tukarkan di tengah gunung dengan penumpang lain yang akan menuju ke arah yang berlawanan. Sontak hal ini membuat ku kaget dan keheranan serta panik, namun tukang ojekku dan seorang penumpang ojek lainnya mengatakan bahwa ini sudah hal yang biasa terjadi dan tidak usah khawatir.  “Oh My God, hal yang biasaaa…tapi tidak denganku” pikirku.

Sesampainya di Ronta badan terasa pegal-pegal dan letih akibat perjalanan dengan motor dan kondisi jalan yang tak layak di sebut jalur penghubung antar kabupaten menurutku. Di Ronta aku harus menunggu sekitar 30 menit untuk mencari body-batang/ sampan yang akan menyeberang dan menunggu naikknya air sungai, sebab jalur ini akan melintasi sungai, hutan bakau dan laut Lipu.  Jadilah pukul 15.30 wita aku naik sampan ini dengan 2 orang penumpang lainnya (Bapak-Bapak) dan dua kakak beradik (13 tahun dan 10 tahun)  pemilik sampan yang akan mengantarkan kami ke Ereke.  Sepanjang perjalanan menyusuri aliran sungai kami bertemu dengan beberapa ekor Buaya dan bahkan ada seekor yang sempat beberapa menit berenang beriringan dengan sampan kami. “Ya ALLAH, aku tidak dalam Jejak Petualang kan saat ini??” (bertanya dalam benakku !!!). Hal ini membuat aku tegang dan kaku beberapa detik begitu pula dengan kedua Bapak itu. Hanya sang pengemudi dan adiknya yang tampak tenang dan bahkan tersenyum simpul melihat kami. Saat melintasi hutan bakau dengan aliran airnya yang tenang dan rimbunnya daun pohon bakau membuat aku sedikit lega dan menikmati kembali perjalanan ini. Pukul 17.45 wita aku sampai di pelabuhan Ereke dan langsung menuju hotel untuk beristirahat setelah seharian penuh dalam perjalanan.

Perempuan Bajo

Keesokannya (Tgl 2 Juli 2009. Red) dengan tubuh yang setengah pulih dari pegel-pegel, aku membawakan materi hasil penelitian kepada peserta lokakarya dan sedikit bercerita tentang pertemuan pertamaku dengan Buaya kepada peserta yang tidak lain penduduk asli kabupaten itu dan rekan-rekan panitia penyelenggara.  Mereka pun ada yang berdecak kagum (mungkin karena aku perempuan yang berhasil menaklukkan rute itu kali ya..? hehehe) dan ada yang tersenyum-senyum. Di sore hari kami (aku dan panitia) mendapat undangan makan malam di Kampong Bajo.  Segera saja aku dan dua rekan panitia meluncur kesana untuk menikmati Sunset dan melepas kangen dengan beberapa masyarakat di Kampung itu.

North Buton, Southeast Sulawesi on April 2009.

2 thoughts on “Bukan Jejak Petualang

  1. amazing midha.
    jalur jawa terlalu biasa dan lumrah untuk dilalui…
    emang ada yang sulit pastinya (tepatnya tertinggal) tapi kalau dibanding dengan luar jawa prosentasenya tidak sebanding maka tidak layak untuk dibandingkan.
    Indonesia itu dari sabang sampai merauke bukan dari jakarta ke jakarta
    so semua butuh pembangunan itu bukan?

    nice trip…
    regards sista….

  2. Thanks Mar..
    Ya, Semoga dengan adanya UU Otonomi daerah dapat menjadikan provinsi2 di luar pulau Jawa tersebut mengelola dan membangun wilayahnya masing-masing. Berharap budaya Korupsi ini tidak mengakar sampai ke generasi penerus di mas yang akan datang. Amin

    Kapan-Kapan kamu ke Sulawesi dah jalan-jalan atau provinsi lain, jangan di Jawa mulu kelilingnya.. hehehe😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s