Meine Think

Only a dead fish who go with the flow

Elegy #1

3 Comments

Dia … datang bagai angin yang menyapa dengan lembut di pagi hari, merebak senyum dan harapan hidup … Dia pergi bagai cahaya yang padam terhembus angin kencang dan tak pernah bersinar lagi… bagai hembusan penyihir hitam.

Aku … memeluk pagi hingga meratapi senja menuju gelapnya malam… memanjat puji dan doa akan harapan dan impian hidup seorang manusia… Memekik sunyi dengan dentuman lagu kehidupan..

Aku mengubur Dia  dalam liang kehidupan yang gelap, berharap tak akan ada sinar yang menerangi… Tapi sang Sutradara kehidupan menggali nya kembali dan menempatkannya pada sebuah sinar kebiruan di atas sana, menanti Aku menjawab makna sinar biru kehidupan yang muncul kembali itu.

Dia menemukan ku kembali dengan jalan Sang Sutradara Kehidupan yang tak mampu di tebak oleh pelaku kehidupan di bumi ini.  Aku, terdiam dan mencoba meraba-meraba makna hadir sinar Biru itu.

“We’ve passed some part of live,

Hope we’re not growing old but growing up cause of it”.  

3 thoughts on “Elegy #1

  1. FF alias Flash Fiction… yah, fiksi kilat. Ini karya fiksi kan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s