Meine Think

Only a dead fish who go with the flow

Perempuan dan Perubahan Iklim

Leave a comment

Ketika membaca judul tulisan ini, sejenak tersirat di benak kita (pembaca, red) akan sebuah tulisan yang sangat ilmiah…. *aku menebaknya demikian*,  namun aku berusaha untuk tidak membuat tulisan ini menjadi menjemukkan.   Minat ku memulai menuliskan ini diawali dari sebuah presentasi tugas kuliahku di hadapan teman-teman dan dosen (Mata Kuliah “Isu Kontemporer Pembanguan Pertanian)  hari ini (Minggu, 27 Mei 2012).   Koq bisa ya?  begini ceritanya … Mata kuliah ini mengharuskan kami membuat paper ilmiah dan presentasi yang relevan dengan sub materi kuliah.   Aku kemudian mengangkat tema papers kali ini “perubahan iklim dan pengaruh nya terhadap sektor pertanian”.  Dalam presentasi ku sajikan dampak yang di hadapi oleh perempuan terhadap perubahan iklim.   Pada sesi ini tak banyak peserta atau teman-teman kuliah yang menyimak dan memperhatikan, malah sempat tersimpul senyum-senyum meremehkan dari mereka.  Mayoritas di kelas ku mahasiswa laki-laki lebih banyak di banding perempuan.   Ketika sampai pada sesi pemutaran video yang menggambarkan apa itu Perubahan Iklim? penyebab nya? Dampaknya bagi mata pencaharian, air, kesehatan dan perempuan? serta bagaimana mengatasi dampak tersebut, barulah teman-teman ku itu fokus dan memperhatikan apa yang ku presentasikan.   Setelah selesai pemutaran video itu aku pertajam lagi dampak perubahan iklim bagi perempuan, terutama perempuan yang tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian.  Setelah sesi presentasi dan diskusi selesai, dosen ku langsung memberi tepuk tangan dan meminta bahan presentasi ku ini di berikan padanya dalam bentuk CD.  Sontak saja hati ku girang dan senang…. Akhirnya🙂

Rasa-rasanya perlu juga ku bagikan dalam tulisan ini ringkasan isi dari tugas kuliah ku tersebut.

Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar bagi kemanusian dan lingkungan kita saat ini.  Istilah “perubahan iklim” di gunakan untuk menggambarkan pemanasan iklim bumi yang disebabkan oleh sejumlah besar gas rumah kaca, termasuk karbon dan metana, dalam susunan atmosfer bumi.  Kegiatan industri yang dilakukan oleh manusia memancarkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer.  Kegiatan -kegiatan tersebut seperti pertambangan, pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, pemrosesan mineral, industri pertanian, asap yang di hasilkan sarana transportasi, penebangan dan pembakaran hutan.  Dapat pula di katakan bahwa pemanasan global (global warming) merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim.

Human activities that caused global warming

Negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah negara-negara yang paling rentan akan dampak perubahan iklim.  Adanya bencana alam merupakan dampak yang paling jelas kita hadapi saat ini akibat dari perubahan iklim.  Alih fungsi lahan-lahan pertanian menjadi lokasi pertambangan menyebabkan bergesernya mata pencaharian manusia dipedesaan yang semula melestarikan bumi berubah menjadi mengeksploitasi hasil bumi.   Berkurang nya spesies hewan dan tumbuhan di bumi akibat perubahan iklim juga dapat dirasakan saat ini.  Misalnya, mewabahnya serangga “Tomcat” di pulau Jawa akibat putusnya rantai makanan yang mengakibatkan meningkatnya populasi serangga “Tomcat” .  Selain itu, kesehatan manusia terganggu dan sumber-sumber air yang perlahan-lahan berkurang.   Hal ini tentunya berdampak bagi kehidupan manusia di bumi terutama kaum perempuan.

Perempuan yang tinggal di pedesaan, sekitar hutan dan pesisir pantai sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perempuan yang bekerja pada lahan-lahan pertanian sebagai buruh tani, akan kehilangan lapangan pekerjaan akibat alih fungsi lahan dan  mengalami kekeringan.  Perempuan yang hidup di sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada hasil-hasil hutan sebagai tempat untuk mencari sumber makan, obat-obatan, kayu bakar dan air akan mengalami kesulitan mencari sumber-sumber kehidupan ini di masa yang akan datang.  Perempuan yang hidup di pesisir pantai juga akan sangat sulit bagi mereka untuk melakukan budidaya rumput laut sebagai tambahan pendapatan rumah tangga.   Hal-hal ini tentunya akan menimbulkan beban kerja bagi perempuan sebagai pelaku ekonomi rumah tangga.  Perlu di ketahui bahwa, kaum perempuan yang bekerja pada sektor-sektor pertanian, dan menggantungkan hidupnya pada hutan memperoleh pendapatan ekonomi yang terendah dibanding kelompok perempuan yang bekerja pada sektor industri atau ekonomi lainnya.   Kaum laki-laki yang tinggal di pedesaan dapat saja meninggalkan pekerjaannya dan mencari sumber mata pencaharian lainnya di kota misalnya menjadi buruh bangunan tanpa beban, namun hal inilah yang akan menimbulkan beben kerja tambahan bagi perempuan yang tinggalkan di desa-desa tersebut.

Women Household who live in coastal area at Kendari city of Southeast Sulawesi province, Indonesia

Tentunya berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan risiko dampak perubahan iklim ini.  Berdasarkan hasil-hasil penelitian lembaga lingkungan dinyatakan bahwa upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim ini dapat dilakukan melalui adaptasi dan mitigasi.  Ketika iklim berubah, hutan dan manusia terpaksa harus terbiasa dengan perubahan curah hujan dan suhu udara yang terjadi secara perlahan.  Mereka juga akan lebih sering menghadapi berbagai kejadian yang berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem seperti musim kering panjang dan banjir.  Strategi adaptasi dapat membantu manusia dalam mengelola dampak perubahan iklim dan melindungi sumber penghidupan atau mata pencaharian mereka.  Salah satu contoh tindakan adaptasi yang bisa dilakukan yakni dengan menanam pohon atau tanaman yang lebih toleran terhadap suhu yang lebih tinggi dan cuaca yang ekstrem.

Jika adaptasi berkaitan dengan respons terhadap dampak perubahan iklim, maka mitigasi berhubungan dengan cara kita mengatasi sumber atau penyebabnya. Kita memerlukan keduanya karena saling melengkapi. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pengaruh emisi pada masa lampau masih akan terasa meskipun mitigasi terhadap emisi GRK sudah dilakukan. Karena itu adaptasi masih akan diperlukan.  Upaya mitigasi harus mengutamakan pengurangan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil di negara-negara industri. Meskipun pengaruhnya relatif kecil, kegiatan  penanaman pohon untuk menyerap karbon juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Namun demikian, untuk mengurangi 20 persen dari emisi yang berkaitan dengan hutan, kita memerlukan pendekatan konservasi yang baru dan lebih efektif.

Sebagai individu tentunya kita dapat berbuat untuk mengatasi dampak perubahan iklim ini dengan meminimalkan pengunaan transportasi dalam aktivitas sehari-hari, mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recyle).  Terlibat aktif dalam gerakan – gerakan perubahan lingkungan yang lestari juga sangat memberikan kontribusi positif. 

“It’s not too late to change our habit for a better place in earth“.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s